Sebagaimana mesin 2 langkah yang harus digantikan oleh mesin 4 langkah, sistem karburasi manual akhirnya juga akan digantikan oleh sistem karburasi digital.
Sistem injeksi bahan bakar elektronik (karburasi digital) sudah mulai diterapkan pada mesin sepedamotor, perlahan tapi pasti akan menggantikan sistem yang sudah lama bertahan yaitu karburator (karburasi manual).
Karena mesin sepedamotor merupakan kombinasi reaksi kimia dan fisika untuk menghasilkan tenaga, maka kita kembali ke teori dasar kimia bahwa reaksi pembakaran BBM dengan O2 yang sempurna adalah:
14,7:1 = 14,7 bagian O2 (oksigen) berbanding 1 bagian BBM
Teori perbandingan berdasarkan berat jenis unsur, pada prakteknya perbandingan diatas (AFR – Air Fuel Ratio) diubah untuk menghasilkan tenaga yang lebih besar atau konsumsi BBM yang ekonomis.
Karburator juga mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai kondisi perbandingan sesuai teori kimia diatas namun dilakukan secara manual. Karburator cenderung diatur untuk kondisi rata-rata dimana sepedamotor digunakan sehingga hasilnya cenderung kearah campuran BBM yang lebih banyak dari kebutuhan mesin sesungguhnya.
Untuk EFI karena diatur secara digital maka setiap ada perubahan kondisi penggunaan sepedamotor ECU akan mengatur supaya kondisi AFR ideal tetap dapat dicapai.
Contohnya: Pada sistem Karburator ada perbedaan tenaga jika sepedamotor digunakan siang hari dibandingkan malam hari, hal ini karena kepadatan oksigen pada volume yang sama berbeda, singkatnya jumlah O2 berubah pasokkan BBM tetap (ukuran jet tidak berubah).
Hal ini tidak terjadi pada sistem EFI karena adanya sensor suhu udara (Inlet Air Temperature) maka saat kondisi kepadatan O2 berubah, pasokkan BBM pun disesuaikan (waktu buka injector ditambah atau dikurangi). Jadi sepedamotor yang menggunakan EFI digunakan siang atau malam tetap optimum alias tenaga tetap sama.
Perbedaan utama Karburator dibandingkan EFI adalah:
Karburator EFI
BBM dihisap oleh mesin BBM diinjeksikan/disemprotkan ke dalam mesin
Pengapian Terpisah Sistem Pengapian menyatu
Komponen-komponen dasar EFI
Setiap jenis atau model sepedamotor mempunyai desain masing-masing namun secara garis besar terdapat komponen-komponen berikut.
ECU – Electrical Control Unit
Pusat pengolah data kondisi penggunaan mesin, mendapat masukkan/input dari sensor-sensor mengolahnya kemudian memberi keluaran/output untuk saat dan jumlah injeksi, saat pengapian.
Fuel Pump
Menghasilkan tekanan BBM yang siap diinjeksikan.
Pressure Regulator
Mengatur kondisi tekanan BBM selalu tetap (55~60psi).
Temperature Sensor
Memberi masukan ke ECU kondisi suhu mesin, kondisi mesin dingin membutuhkan BBM lebih banyak.
Inlet Air Temperature Sensor
Memberi masukan ke ECU kondisi suhu udara yang akan masuk ke mesin, udara dingin O2 lebih padat, membutuhkan BBM lebih banyak.
Inlet Air Pressure Sensor
Memberi masukan ke ECU kondisi tekanan udara yang akan masuk ke mesin, udara bertekanan (pada tipe sepedamotor ini hulu saluran masuk ada diantara dua lampu depan) O2 lebih padat, membutuhkan BBM lebih banyak.
Atmospheric Pressure Sensor memberi masukan ke ECU kondisi tekanan udara lingkungan sekitar sepedamotor, pada dataran rendah (pantai) O2 lebih padat, membutuhkan BBM lebih banyak.
Crankshaft Sensor
Memberi masukan ke ECU posisi dan kecepatan putaran mesin, putaran tinggi membutuhkan buka INJECTOR yang lebih cepat.
Camshaft Sensor
Memberi masukan ke ECU posisi langkah mesin, hanya langkah hisap yang membutuhkan buka INJECTOR.
Throttle Sensor
Memberi masukan ke ECU posisi dan besarnya bukaan aliran udara, bukaan besar membutuhkan buka INJECTOR yang lebih lama.
Fuel Injector / Injector
Gerbang akhir dari BBM yang bertekanan, fungsi utama menyemprotkan BBM ke dalam mesin, membuka dan menutup berdasarkan perintah dari ECU.
Speed Sensor
Memberi masukan ke ECU kondisi kecepatan sepedamotor, memainkan gas di lampu merah dibanding kecepatan 90km/jam, buka INJECTOR berbeda.
Vehicle-down Sensor
Memberi masukan ke ECU kondisi sepedamotor, jika motor terjatuh dengan kondisi mesin hidup maka ECU akan menghentikan kerja FUEL PUMP, IGNITION, INJECTOR, untuk keamanan dan keselamatan.
Electronic Fuel Injection memang lebih unggul dibanding karburator, karena dapat menyesuaikan takaran BBM sesuai kebutuhan mesin standar.
ECU diprogram untuk kondisi mesin standar sesuai model sepedamotor, di dalam ECU terdapat tabel BBM yang akan dikirim melalui Injector sesuai kondisi mesin standar.
Jika ada perubahan dari kondisi standar misalnya filter udara diganti atau dilepas, walaupun ada pengukur tekanan udara (inlet air pressure sensor) pasokkan BBM hanya berubah sedikit, akhirnya sepedamotor akan berjalan tidak normal karena O2 terlalu banyak (lean mixture).
Tabel ECU standar biasanya tidak dapat dirubah, karena tujuan utama EFI adalah pengurangan kadar emisi gas buang beracun.
Untuk mesin modifikasi memerlukan modifikasi tabel dalam ECU, hal ini dapat dilakukan dengan:
- Software yang dapat masuk ke dalam memory ECU – hanya dimiliki oleh ATPM atau dealer.
- Piggyback alat tambahan diluar ECU – bekerja dengan cara memanipulasi sinyal yang dikirim ke Injector untuk membuka lebih lama.
- Tukar ECU aftermarket yang dapat diprogram tabel memory-nya, sesuai modifikasi, sesuai kondisi sirkuit.
Problem Mesin EFI
Pengguna mobil Kijang Kapsul tahun 2000 1.8 yang
sudah dilengkapi EFI mungkin pernah mengalami problem yang cukup merepotkan
ini. Saat mesin menyala ada suara berisik di sekitar mesin EFInya.
Selain itu, tali power steering pernah bocor
sampai oli rem habis. Saat dibawa berjalan cukup jauh terdapat
bunyi-bunyian tetapi kemudi mobil tetap enteng.
Sebenarnya, suara berisik itu bisa berasal dari
macam-macam hal. Namun, yang pasti dari komponen bergerak, bisa di
dalam blok mesin atau di luarnya. Sebaiknya periksakan ke bengkel
resmi, karena komponen bergerak yang bergesekan atau sudah aus dapat membuat
kerusakan ke komponen lainnya.
Mengenai power steering, bila setir masih enteng
berarti minyak power steering masih ada. Namun bila habis dan masih tetap
dijalankan, maka setir akan terasa berat dan merusak pompa power steering
SEJARAH EFI
Seperti diketahui, beberapa produsen kendaraan di Indonesia
telah lama mengaplikasikan Mesin EFI (Electronic Fuel Injection) pada
produknya, termasuk merek Astra Group. Namun kita yang masih awam barangkali
hanya sedikit tahu tentang apa itu EFI, apa kelebihannya. Mesin EFI adalah
mesin yang dilengkapi piranti EFI atau Elecronic Fuel Injection, menggantikan
sistem karburator.
Pada
karburator, bensin dari tangki disalurkan ke ruang pelampung dalam karburator
melalui pompa bensin (mekanis/elektrik) dan saringan bensin. Selanjutnya bensin
masuk ke mesin melalui lubang jet dalam ruang venturi (ruang untuk menambah
kecepatan aliran udara masuk ke mesin). Sehingga jumlah bensin yang masuk
tergantung pada kecepatan aliran udara yang masuk dan besar lubang jet.
Pada
EFI, bensin diinjeksikan ke dalam mesin menggunakan injektor dengan waktu
penginjeksian (injection duration and frequency) yang dikontrol secara
elektronik. Injeksi bensin disesuaikan dengan jumlah udara yang masuk, sehingga
campuran ideal antara bensin dan udara akan terpenuhi sesuai dengan kondisi
beban dan putaran mesin. Generasi terbaru EFI dikenal dangan sebutan Engine
Management System (EMS), yang mengontrol sistem bahan bakar sekaligus juga
mengatur sistem pengapian (duration, timing, and frequency of ignition).
Tujuan
pengaplikasian sistem EFI adalah meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar
(fuel efficiency), kinerja mesin lebih maksimal (optimal engine performance),
pengendalian/pengoperasian mesin lebih mudah (easy handling), memperpanjang
umur/lifetime dan daya tahan mesin (durability), serta emisi gas buang lebih
rendah (low emissions).
Lantas
bagaimana prinsip kerja sistem EFI? Jumlah aliran/massa udara yang masuk ke
dalam silinder melalui intake manifold diukur oleh sensor aliran udara (air
flow sensor), kemudian informasikan ke ECU (Electronic Control Unit).
Selanjutnya ECU menentukan jumlah bahan bakar yang harus masuk ke dalam
silinder mesin. Idealnya untuk setiap 14,7 gram udara masuk diinjeksikan 1 gram
bensin dan disesuaikan dengan kondisi panas mesin dan udara sekitar serta beban
kendaraan. Bensin dengan tekanan tertentu (2-4 kali tekanan dalam sistem
karburator) telah dibangun oleh pompa bensin elektrik dalam sistem dan siap
diinjeksikan melalui injektor elektronik.
ECU akan
mengatur lama pembukaan injektor, sehingga bensin yang masuk ke dalam pipa
saluran masuk (intake manifold) melalui injektor telah terukur jumlahnya.
Bensin dan udara akan bercampur di dalam intake manifold dan masuk ke dalam
silinder pada saat langkah pemasukan. Campuran ideal siap dibakar.
Kemudian,
mengapa campuran bensin dan udara harus dikendalikan? Kalau tidak dikendalikan,
akan menimbulkan kerugian. Jika perbandingan udara dan bahan bakar tidak ideal
(tidak dikendalikan) menjadikan bensin boros pada campuran yang terlalu banyak
bensin. Selain itu, pembakaran tidak sempurna, akibatnya emisi gas buang
berlebihan dan tenaga tidak optimal karena energi kinetis yang dihasilkan pun
tidak maksimal. Kerusakan mesin pada jangka pendek maupun jangka panjang lebih
cepat terjadi. Kemudian, beban kerja mesin dan kondisi lingkungan (suhu dan
tekanan) yang variatif akan memerlukan pengaturan relatif kompleks. Sistem EFI
lebih mampu mengatasi kondisi variatif ini secara optimal dibandingkan sistem
karburator
Sesuai
dengan namanya, pada dasarnya sistem EFI (Electronic Fuel Injection) mengatur,
mengontrol dan mengawasi jumlah bensin yang harus masuk ke dalam silinder
dengan cara mengatur waktu dan frekuensi penginjeksian bensin (injection
duration and frequency). Generasi lebih baru EFI dikenal dangan sebutan Engine
Management System (EMS), selain mengontrol sistem bahan bakar sekaligus juga
mengatur sistem pengapian (ignition duration, timing, and frequency).
Mesin
EFI, sebagaimana diaplikasikan pada produk merek Astra Group, memiliki beberapa
kegunaan. Bahan bakar lebih hemat karena bensin terpakai sesuai dengan jumlah
kebutuhan ideal mesin, akselerasi lebih responsif, dan pembakaran mesin berlangsung
optimal pada semua kondisi kerja mesin. Dilengkapi pula fault code indicator
(gambar mesin di dasbor), yang akan menyala ketika ada kerusakan pada komponen
EFI, sehingga kerusakan segera diketahui dan di perbaiki. Kemudian juga
pembakaran lebih bersih, mesin lebih bertenaga, lebih awet dan emisi gas buang
lebih rendah.
Meski
mesin EFI memiliki keunggulan, bukan berarti tidak menurun performanya. Untuk mempertahankan performa mesin EFI,
lakukanlah penggantian pelumas mesin secara teratur. Keterlambatan bisa
merusakkan mesin, sehingga kinerja mesin akan menurun meskipun sistem EFI
bekerja normal.
Lakukan
pemeriksaan filter/saringan udara, bersihkan sesering mungkin dan ganti bila
perlu. Periksa filter bahan bakar, ikuti buku petunjuk atau setidaknya setiap
10.000 km, lakukan tes aliran bahan bakar, bila kurang dari standar sebaiknya
diganti.
Periksa
secara seksama semua jaringan listrik (kabel dan konektornya), pastikan
semuanya baik dan bersih, ganti bila sudah mulai kotor/berkarat. Penggantian
busi sebaiknya diganti setiap 10.000-15.000 km atau ikuti buku petunjuk. Busi
yang tidak baik menyebabkan pembakaran tidak sempurna.
Siapkan
selalu relay dan sekering cadangan untuk fuel pump dan extra-fan di dalam
kendaraan. Gunakan bensin dengan oktan yang sesuai dengan kebutuhan mesin,
sabaiknya gunakan bensin premix atau super TT (oktan cukup).
Sedikitnya
ada 3 faktor dominan yang mempengaruhi kinerja mesin EFI. Campuran bensin dan
udara yang tepat sesuai dengan kondisi kerja mesin. Hal ini sebagian sudah dijelaskan
pada edisi sebelumnya. Pada prinsipnya sistem EFI mampu menyediakan campuran
dalam jumlah dan perbandingan yang tepat sesuai dengan kondisi kerja mesin.
Sebagai indikator campuran tersebut adalah nilai lambda yang terlihat saat
dilakukan pengukuran gas buang.
Contohnya,
pada saat putaran mesin konstan maka lambda = 1 (campuran ideal). Lalu pada
saat akselerasi (putaran meningkat) nilai lambda kurang daripada 1 (campuran
kaya), dan pada saat deselerasi (putaran menurun) nilai lambda lebih dari 1 (campuran
kurus). Campuran bensin dan
udara yang tidak tepat dapat mengakibatkan masalah. Misalnya, kinerja mesin
menurun, kerak cepat menumpuk dalam ruang bakar, dan pemborosan bensin.
KONTRUKSI MESIN EFI
Secara umum, konstruksi sistem EFI dapat dibagi
menjadi tiga bagian/sistem utama, yaitu;
a) sistem bahan bakar (fuel system),
b) sistem kontrol elektronik (electronic control system), dan
c) sistem induksi/pemasukan udara (air induction system).
Ketiga sistem utama ini akan dibahas satu persatu di bawah ini. Jumlah komponen-komponen yang terdapat pada sistem EFI bisa berbeda pada setiap jenis sepeda mesin. Semakin lengkap komponen sistem EFI yang digunakan, tentu kerja sistem EFI akan lebih baik sehingga bisa menghasilkan unjuk kerja mesin yang lebih optimal pula. Dengan semakin lengkapnya komponen-komponen sistem EFI (misalnya sensor-sensor), maka pengaturan koreksi yang diperlukan untuk mengatur perbandingan bahan bakar dan udara yang sesuai dengan kondisi kerja mesin akan semakin sempurna.
Macam macam sistem dalam EFI :a) sistem bahan bakar (fuel system),
b) sistem kontrol elektronik (electronic control system), dan
c) sistem induksi/pemasukan udara (air induction system).
Ketiga sistem utama ini akan dibahas satu persatu di bawah ini. Jumlah komponen-komponen yang terdapat pada sistem EFI bisa berbeda pada setiap jenis sepeda mesin. Semakin lengkap komponen sistem EFI yang digunakan, tentu kerja sistem EFI akan lebih baik sehingga bisa menghasilkan unjuk kerja mesin yang lebih optimal pula. Dengan semakin lengkapnya komponen-komponen sistem EFI (misalnya sensor-sensor), maka pengaturan koreksi yang diperlukan untuk mengatur perbandingan bahan bakar dan udara yang sesuai dengan kondisi kerja mesin akan semakin sempurna.
a. Sistem Bahan Bakar Komponen-komponen yang digunakan untuk menyalurkan bahan bakar ke mesin terdiri dari tangki bahan bakar (fuel pump), pompa bahan bakar (fuel pump), saringan bahan bakar (fuel filter), pipa/slang penyalur (pembagi), pengatur tekanan bahan bakar (fuel pressure regulator), dan injektor/penyemprot bahan bakar. Sistem bahan bakar ini berfungsi untuk menyimpan, membersihkan, menyalurkan dan menyemprotkan /menginjeksikan bahan bakar.
Adapun fungsi masing-masing komponen pada sistem bahan bakar tersebut adalah sebagai berikut:
1) Fuel suction filter; menyaring kotoran agar tidak terisap pompa bahan bakar.
2) Fuel pump module; memompa dan mengalirkan bahan bakar dari tangki bahan bakar ke injektor. Penyaluran bahan bakarnya harus lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan mesin supaya tekanan dalam sistem bahan bakar bisa dipertahankan setiap waktu walaupun kondisi mesin berubah¬ubah.
3) Fuel pressure regulator; mengatur tekanan bahan bakar di dalam sistem aliran bahan bakar agar tetap/konstan. Contohnya pada Honda Supra X 125 PGM-FI tekanan dipertahankan pada 294 kPa (3,0 kgf/cm2, 43 psi). Bila bahan bakar yang dipompa menuju injektor terlalu besar (tekanan bahan bakar melebihi 294 kPa (3,0 kgf/cm2, 43 psi)) pressure regulator mengembalikan bahan bakar ke dalam tangki.
4) Fuel feed hose; slang untuk mengalirkan bahan bakar dari tangki menuju injektor. Slang dirancang harus tahan tekanan bahan bakar akibat dipompa dengan tekanan minimal sebesar tekanan yang dihasilkan oleh pompa.
5) Fuel Injector; menyemprotkan bahan bakar ke saluran masuk (intake manifold) sebelum, biasanya sebelum katup masuk, namun ada juga yang ke throttle body. Volume penyemprotan disesuaikan oleh waktu pembukaan nozel/injektor. Lama dan banyaknya penyemprotan diatur oleh ECM (Electronic/Engine Control Module) atau ECU (Electronic Control Unit).
Terjadinya penyemprotan pada injektor adalah pada saat ECU memberikan tegangan listrik ke solenoid coil injektor. Dengan pemberian tegangan listrik tersebut solenoid coil akan menjadi magnet sehingga mampu menarik plunger dan mengangkat needle valve (katup jarum) dari dudukannya, sehingga saluran bahan bakar yang sudah bertekanan akan memancar keluar dari injektor.
b. Sistem Kontrol Elektronik
Komponen sistem kontrol elektronik terdiri dari beberapa sensor (pengindera), seperti MAP (Manifold Absolute Pressure) sensor, TP (Throttle Position) sensor, IAT (Intake Air Temperature) sensor, bank angle sensor, EOT (Engine Oil Temperature) sensor, dan sensor-sensor lainnya. Pada sistem ini juga terdapat ECU (Electronic Control Unit) atau ECM dan komponen¬komponen tambahan seperti alternator (magnet) dan regulator/rectifier yang mensuplai dan mengatur tegangan listrik ke ECU, baterai dan komponen lain. Pada sistem ini juga terdapat DLC (Data Link Connector) yaitu semacam soket dihubungkan dengan engine analyzer untuk mecari sumber kerusakan komponen
Secara garis besar fungsi dari masing-masing komponen sistem kontrol elektronik antara lain sebagai berikut;
1) ECU/ECM; menerima dan menghitung seluruh informasi/data yang diterima dari masing-masing sinyal sensor yang ada dalam mesin. Informasi yang diperoleh dari sensor antara lain berupa informasi tentang suhu udara, suhu oli mesin, suhu air pendingin, tekanan atau jumlah udara masuk, posisi katup throttle/katup gas, putaran mesin, posisi poros engkol, dan informasi yang lainnya. Pada umumnya sensor bekerja pada tegangan antara 0 volt sampai 5 volt. Selanjutnya ECU/ECM menggunakan informasi-informasi yang telah diolah tadi untuk menghitung dan menentukan saat (timing) dan lamanya injektor bekerja/menyemprotkan bahan bakar dengan mengirimkan tegangan listrik ke solenoid injektor. Pada beberapa mesin yang sudah lebih sempurna, disamping mengontrol injektor, ECU/ECM juga bisa mengontrol sistem pengapian.
2) MAP (Manifold absolute pressure) sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa informasi (deteksi) tekanan udara yang masuk ke intake manifold. Selain tipe MAP sensor, pendeteksian udara yang masuk ke intake manifold bisa dalam bentuk jumlah maupun berat udara. Jika jumlah udara yang dideteksi, sensornya dinamakan air flow meter, sedangkan jika berat udara yang dideteksi, sensornya dinamakan air mass sensor.
3) IAT (Engine air temperature) sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa informasi (deteksi) tentang suhu udara yang masuk ke intake manifold. Tegangan referensi/suplai 5 Volt dari ECU selanjutnya akan berubah menjadi tegangan sinyal yang nilainya dipengaruhi oleh suhu udara masuk.
4) TP (Throttle Position) sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa informasi (deteksi) tentang posisi katup throttle/katup gas. Generasi yang lebih baru dari sensor ini tidak hanya terdiri dari kontak-kontak yang mendeteksi posisi idel/langsam dan posisi beban penuh, akan tetapi sudah merupakan potensiometer (variable resistor) dan dapat memberikan sinyal ke ECU pada setiap keadaan beban mesin. Konstruksi generasi terakhir dari sensor posisi katup gas sudah full elektronis, karena yang menggerakkan katup gas adalah elektromesin yang dikendalikan oleh ECU tanpa kabel gas yang terhubung dengan pedal gas. Generasi terbaru ini memungkinkan pengontrolan emisi/gas buang lebih bersih karena pedal gas yang digerakkan hanyalah memberikan sinyal tegangan ke ECU dan pembukaan serta penutupan katup gas juga dilakukan oleh ECU secara elektronis.
5) Engine oil temperature sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa informasi (deteksi) tentang suhu oli mesin. 6) Bank angle sensor; merupakan sensor sudut kemiringan. Pada sepeda motor yang menggunakan sistem EFI biasanya dilengkapi dengan bank angle sensor yang bertujuan untuk pengaman saat kendaraan terjatuh dengan sudut kemiringan 550
Sinyal
atau informasi yang dikirim bank angle sensor ke ECU saat sepeda motor terjatuh
dengan sudut kemiringan yang telah ditentukan akan membuat ECU memberikan
perintah untuk mematikan (meng-OFF-kan) injektor, koil pengapian, dan pompa
bahan bakar. Dengan demikian peluang terbakarnya sepeda motor jika ada
bahan bakar yang tercecer atau tumpah akan kecil karena sistem pengapian dan
sistem bahan bakar langsung dihentikan walaupun kunci kontak masih dalam posisi
ON.
Bank angle sensor akan mendeteksi setiap sudut kemiringan sepeda motor. Jika sudut kemiringan masih di bawah limit yang ditentukan, maka informasi yang dikirim ke ECU tidak sampai membuat ECU meng-OFF-kan ketiga komponen di atas. Bagaimana dengan sudut kemiringan sepeda motor yang sedang menikung/berbelok? Jika sepeda motor sedang dijalankan pada posisi menikung (walau kemiringannya melebihi 550), ECU tidak meng-OFF¬kan ketiga komponen tersebut. Pada saat menikung terdapat gaya centripugal yang membuat sudut kemiringan pendulum dalam bank angle sensor tidak sama dengan kemiringan sepeda motor.
Dengan demikian, walaupun sudut kemiringan sepeda motor sudah mencapai 550, tapi dalam kenyataannya sinyal yang dikirim ke ECU masih mengindikasikan bahwa sudut kemiringannya masih di bawah 550 sehingga ECU tidak meng-OFF-kan ketiga komponen tersebut. Selain sensor-sensor di atas masih terdapat sensor lainnya digunakan pada sistem EFI, seperti sensor posisi camshaft/poros nok, (camshaft position sensor) untuk mendeteksi posisi poros nok agar saat pengapiannya bisa diketahui, sensor posisi poros engkol (crankshaft position sensor) untuk mendeteksi putaran poros engkol, sensor air pendingin (water temperature sensor) untuk mendeteksi air pendingin di mesin dan sensor lainnya. Namun demikian, pada sistem EFI sepeda motor yang masih sederhana, tidak semua sensor dipasang.
c. Sistem Induksi UdaraBank angle sensor akan mendeteksi setiap sudut kemiringan sepeda motor. Jika sudut kemiringan masih di bawah limit yang ditentukan, maka informasi yang dikirim ke ECU tidak sampai membuat ECU meng-OFF-kan ketiga komponen di atas. Bagaimana dengan sudut kemiringan sepeda motor yang sedang menikung/berbelok? Jika sepeda motor sedang dijalankan pada posisi menikung (walau kemiringannya melebihi 550), ECU tidak meng-OFF¬kan ketiga komponen tersebut. Pada saat menikung terdapat gaya centripugal yang membuat sudut kemiringan pendulum dalam bank angle sensor tidak sama dengan kemiringan sepeda motor.
Dengan demikian, walaupun sudut kemiringan sepeda motor sudah mencapai 550, tapi dalam kenyataannya sinyal yang dikirim ke ECU masih mengindikasikan bahwa sudut kemiringannya masih di bawah 550 sehingga ECU tidak meng-OFF-kan ketiga komponen tersebut. Selain sensor-sensor di atas masih terdapat sensor lainnya digunakan pada sistem EFI, seperti sensor posisi camshaft/poros nok, (camshaft position sensor) untuk mendeteksi posisi poros nok agar saat pengapiannya bisa diketahui, sensor posisi poros engkol (crankshaft position sensor) untuk mendeteksi putaran poros engkol, sensor air pendingin (water temperature sensor) untuk mendeteksi air pendingin di mesin dan sensor lainnya. Namun demikian, pada sistem EFI sepeda motor yang masih sederhana, tidak semua sensor dipasang.
Komponen yang termasuk ke dalam sistem ini antara
lain; air cleaner/air box (saringan udara), intake manifold, dan throttle body
(tempat katup gas). Sistem ini berfungsi untuk menyalurkan sejumlah udara yang
diperlukan untuk pembakaran.
CARA KERJA MESIN EFI
Sistem EFI atau PGM-FI (istilah pada Honda)
dirancang agar bisa melakukan penyemprotan bahan bakar yang jumlah dan waktunya
ditentukan berdasarkan informasi dari sensor-sensor. Pengaturan koreksi
perbandingan bahan bakar dan udara sangat penting dilakukan agar mesin bisa
tetap beroperasi/bekerja dengan sempurna pada berbagai kondisi kerjanya. Oleh
karena itu, keberadaan sensor-sensor yang memberikan informasi akurat tentang
kondisi mesin saat itu sangat menentukan unjuk kerja (performance) suatu mesin.
Semakin lengkap sensor, maka pendeteksian kondisi mesin dari berbagai karakter
(suhu, tekanan, putaran, kandungan gas, getaran mesin dan sebagainya) menjadi
lebih baik. Informasi-informasi tersebut sangat bermanfaat bagi ECU untuk
diolah guna memberikan perintah yang tepat kepada injektor, sistem pengapian,
pompa bahan bakar dan sebagainya.
a. Saat Penginjeksian (Injection
Timing) dan Lamanya Penginjeksian
Terdapat
beberapa tipe penginjeksian (penyemprotan) dalam sistem EFI motor bensin
(khususnya yang mempunyai jumlah silinder dua atau lebih), diantaranya tipe
injeksi serentak (simoultaneous injection) dan tipe injeksi terpisah
(independent injection). Tipe injeksi serentak yaitu saat penginjeksian
terjadi secara bersamaan, sedangkan tipe injeksi terpisah yaitu saat
penginjeksian setiap injektor berbeda antara satu dengan yang lainnya, biasanya
sesuai dengan urutan pengapian atau firing order (FO). Seperti telah disebutkan
sebelumnya bahwa penginjeksian pada motor bensin pada umumnya dilakukan di
ujung intake manifod sebelum inlet valve (katup masuk). Oleh karena itu, saat
penginjeksian (injection timing) tidak mesti sama persis dengan percikan bunga
api busi, yaitu beberapa derajat sebelum TMA di akhir langkah kompresi. Saat
penginjeksian tidak menjadi masalah walau terjadi pada langkah hisap, kompresi,
usaha maupun buang karena penginjeksian terjadi sebelum katup masuk. Artinya
saat terjadinya penginjeksian tidak langsung masuk ke ruang bakar selama posisi
katup masuk masih dalam keadaan menutup. Misalnya untuk mesin 4 silinder dengan
tipe injeksi serentak, tentunya saat penginjeksian injektor satu dengan yang
lainnya terjadi secara bersamaan. Jika FO mesin tersebut adalah 1 – 3 – 4 – 2,
saat terjadi injeksi pada silinder 1 pada langkah hisap, maka pada silinder 3
injeksi terjadi pada satu langkah sebelumnya, yaitu langkah buang. Selanjutnya pada
silinder 4 injeksi terjadi pada langkah usaha, dan pada silinder 2 injeksi
terjadi pada langkah kompresi. Sedangkan lamanya (duration) penginjeksian akan
bervariasi tergantung kondisi kerja mesin. Semakin lama terjadi injeksi, maka
jumlah bahan bakar akan semakin banyak pula. Dengan demikian, seiring naiknya
putara mesin, maka lamanya injeksi akan semakin bertambah karena bahan bakar
yang dibutuhkan semakin banyak.
b. Cara Kerja Saat Kondisi Mesin
Dingin
Pada
saat kondisi mesin masih dingin (misalnya saat menghidupkan di pagi hari), maka
diperlukan campuran bahan bakar dan udara yang lebih banyak (campuran kaya).
Hal ini disebabkan penguapan bahan bakar rendah pada saat kondisi
temperatur/suhu masih rendah. Dengan demikian akan terdapat sebagian kecil bahan bakar yang menempel di
dinding intake manifold sehingga tidak masuk dan ikut terbakar dalam ruang
bakar. Untuk memperkaya campuran bahan bakar udara tersebut, pada sistem EFI
yang dilengkapi dengan sistem pendinginan air terdapat sensor temperatur air
pendingin (engine/coolant temperature sensor) seperti terlihat pada gambar di
bawah ini. Sensor ini akan mendeteksi kondisi air pendingin mesin yang masih
dingin tersebut. Temperatur air pendingin yang dideteksi dirubah menjadi signal
listrik dan dikirim ke ECU/ECM. Selanjutnya ECU/ECM akan mengolahnya kemudian
memberikan perintah pada injektor dengan memberikan tegangan yang lebih lama
pada solenoid injektor agar bahan bakar yang disemprotkan menjadi lebih banyak
(kaya).
Sedangkan
bagi mesin yang tidak dilengkapi dengan sistem pendinginan air, sensor yang
dominan untuk mendeteksi kondisi mesin saat dingin adalah sensor temperatur
oli/pelumas mesin (engine oil temperature sensor) dan sensor temperatur udara
masuk (intake air temperature sensor). Sensor temperature oli mesin
mendeteksi kondisi pelumas yang masih dingin saat itu, kemudian dirubah menjadi
signal listrik dan dikirim ke ECU/ECM. Sedangkan sensor temperatur udara masuk mendeteksi temperatur udara yang
masuk ke intake manifold. Pada saat masih dingin kerapatan udara lebih padat
sehingga jumlah molekul udara lebih banyak dibanding temperatur saat panas.
Agar tetap terjadi perbandingan campuran yang tetap mendekati ideal, maka
ECU/ECM akan memberikan tegangan pada solenoid injektor sedikit lebih lama (kaya).
Dengan demikian, rendahnya penguapan bahan bakar saat temperatur masih rendah
sehingga akan ada bahan bakar yang menempel di dinding intake manifold dapat
diantisipasi dengan memperkaya campuran tersebut.
c. Cara Kerja Saat Putaran Rendah
Pada
saat putaran mesin masih rendah dan suhu mesin sudah mencapai suhu kerjanya,
ECU/ECM akan mengontrol dan memberikan tegangan listrik ke injektor hanya
sebentar saja (beberapa derajat engkol) karena jumlah udara yang dideteksi oleh
MAP sensor dan sensor posisi katup gas (TP sensor ) masih sedikit. Hal ini
supaya dimungkinkan tetap terjadinya perbandingan campuran bahan bakar dan
udara yang tepat (mendekati perbandingan campuran teoritis atau ideal). Posisi
katup gas (katup trotel) pada throttle body masih menutup pada saat putaran
stasioner/langsam (putaran stasioner pada sepeda motor pada umumnya sekitar
1400 rpm). Oleh karena itu, aliran udara dideteksi dari saluran khusus untuk
saluran stasioner. Sebagian besar sistem EFI pada sepeda motor masih
menggunakan skrup penyetel (air idle adjusting screw) untuk putaran stasioner.
Berdasarkan
informasi dari sensor tekanan udara (MAP sensor) dan sensor posisi katup gas
(TP) sensor tersebut, ECU/ECM akan memberikan tegangan listrik kepada solenoid
injektor untuk menyemprotkan bahan bakar. Lamanya penyemprotan/ penginjeksian
hanya beberapa derajat engkol saja karena bahan bakar yang dibutuhkan masih
sedikit. Pada saat putaran mesin sedikit dinaikkan namun masih termasuk ke
dalam putaran rendah, tekanan udara yang dideteksi oleh MAP sensor akan menjadi
lebih tinggi dibanding saat putaran stasioner. Naiknya tekanan udara yang masuk
mengindikasikan bahwa jumlah udara yang masuk lebih banyak. Berdasarkan
informasi yang diperoleh oleh MAP sensor tersebut, ECU/ECM akan memberikan
tegangan listrik sedikit lebih lama dibandingkan saat putara satsioner.
Seperti
telah disebutkan sebelumnya bahwa proses penyemprotan pada injektor terjadi
saat ECU/ECM memberikan tegangan pada solenoid injektor. Dengan pemberian
tegangan listrik tersebut solenoid coil akan menjadi magnet sehingga mampu
menarik plunger dan mengangkat needle valve (katup jarum) dari dudukannya,
sehingga bahan bakar yang berada dalam saluran bahan bakar yang sudah
bertekanan akan memancar keluar dari injektor.
d. Cara Kerja Saat Putaran
Menengah dan Tinggi
Pada
saat putaran mesin dinaikkan dan kondisi mesin dalam keadaan normal, ECU/ECM
menerima informasi dari sensor posisi katup gas (TP sensor) dan MAP sensor. TP
sensor mendeteksi pembukaan katup trotel sedangkan MAP sensor mendeteksi
jumlah/tekanan udara yang semakin naik. Saat ini deteksi yang diperoleh oleh
sensor tersebut menunjukkan jumlah udara yang masuk semakin banyak. Sensor-sensor tersebut mengirimkan
informasi ke ECU/ECM dalam bentuk signal listrik. ECU/ECM kemudian mengolahnya
dan selanjutnya akan memberikan tegangan listrik pada solenoid injektor dengan
waktu yang lebih lama dibandingkan putaran sebelumnya. Disamping itu saat
pengapiannya juga otomatis dimajukan agar tetap tercapai pembakaran yang
optimum berdasarkan infromasi yang diperoleh dari sensor putaran rpm. Gambar
bawah ini adalah ilustrasi saat mesin berputar pada putaran menengah, yaitu
4000 rpm. Seperti terlihat pada gambar, saat penyemprotan/penginjeksian (fuel
injection) mulai terjadi dari pertengahan langkah usaha sampai pertengahan
langkah buang dan lamanya penyemprotan/ penginjeksian sudah hampir mencapai
setengah putaran derajat engkol karena bahan bakar yang dibutuhkan semakin
banyak. Selanjutnya jika putaran putaran dinaikkan lagi, katup trotel semakin
terbuka lebar dan sensor posisi katup trotel (TP sensor) akan mendeteksi
perubahan katup trotel tersebut. ECU/ECM memerima informasi perubahan katup
trotel tersebut dalam bentuk signal listrik dan akan memberikan tegangan pada
solenoid injektor lebih lama dibanding putaran menengah karena bahan bakar yang
dibutuhkan lebih banyak lagi. Dengan demikian lamanya
penyemprotan/penginjeksian otomatis akan melebihi dari setengah putaran derajat
engkol.
e. Cara Kerja Saat Akselerasi
(Percepatan)
Bila
sepeda motor diakselerasi (digas) dengan serentak dari kecepatan rendah, maka
volume udara juga akan bertambah dengan cepat. Dalam hal ini, karena bahan
bakar lebih berat dibanding udara, maka untuk sementara akan terjadi
keterlambatan bahan bakar sehingga terjadi campuran kurus/miskin. Untuk
mengatasi hal tersebut, dalam sistem bahan bakar konvensional (menggunakan
karburator) dilengkapi sistem akselerasi (percepatan) yang akan menyemprotkan
sejumlah bahan bakar tambahan melalui saluran khusus. Sedangkan pada sistem
injeksi (EFI) tidak membuat suatu koreksi khusus selama akselerasi. Hal ini
disebabkan dalam sistem EFI bahan bakar yang ada dalam saluran sudah bertekanan
tinggi. Perubahan jumlah udara saat katup gas dibuka dengan tiba-tiba akan
dideteksi oleh MAP sensor. Walaupun yang dideteksi MAP sensor adalah tekanan
udaranya, namun pada dasarnya juga menentukan jumlah udara. Semakin tinggi
tekanan udara yang dideteksi, maka semakin banyak jumlah udara yang masuk ke
intake manifold. Dengan demikian, selama akselerasi pada sistem EFI tidak
terjadi keterlambatan pengiriman bahan bakar karena bahan bakar yang telah
bertekanan tinggi tersebut dengan serentak diinjeksikan sesuai dengan perubahan
volume udara yang masuk. Demikian
tadi cara kerja sistem EFI pada beberapa kondisi kerja mesin. Masih ada
beberapa kondisi kerja mesin yang tidak dibahas lebih detil seperti saat
perlambatan (deselerasi), selama tenaga yang dikeluarkan tinggi (high power
output) atau beban berat dan sebagainya. Namun pada prinsipnya adalah hampir sama
dengan penjelasan yang sudah dibahas. Hal ini disebabkan dalam sistem EFI semua
koreksi terhadap pengaturan waktu/saat penginjeksian dan lamanya penginjeksian
berdasarkan informasi¬informasi yang diberikan oleh sensor-sensor yang ada.
Informasi tersebut dikirim ke ECU/ECM dalam bentuk signal listrik yang
merupakan gambaran tentang berbagai kondisi kerja mesin saat itu. Semakin
lengkap sensor yang dipasang pada suatu mesin, maka koreksi terhadap pengaturan
saat dan lamanya penginjeksian akan semakin sempurna, sehingga mesin bisa
menghasilkan unjuk kerja atau tampilan (performance) yang optimal dan
mengeluarkan kandungan emisi beracun yang minimal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar